SMA Negeri 7 Semarang menggelar Seminar Anti Kekerasan BERSINAR bagi murid kelas XI pada Kamis (10/9/2026). Kegiatan yang digagas oleh BK SMA Negeri 7 Semarang ini mengangkat tema “Sekolah Bebas Kekerasan, Generasi Cerdas Hukum: Paham Batasan, Saling Jaga Teman.”
BERSINAR merupakan akronim dari Bicara, Empati, Respek, Stop Kekerasan, Intimidasi, Nirkekerasan, Aman, Remaja Sadar Hukum. Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah mengajak murid membangun lingkungan pertemanan yang aman, saling menghargai, serta berani mengambil sikap ketika menghadapi kekerasan.
Seminar ini turut dihadiri oleh Nuniek Mustikaningtyas Runtuweni, S.Pd., M.Pd., Kepala Seksi (Kasi) SMA dan SLB pada Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Provinsi Jawa Tengah. Kehadirannya menjadi bagian dari dukungan terhadap upaya sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.
Pada sesi pertama, materi disampaikan oleh Tri Riswanto, S.H., M.H., selaku Kasi BKA Bapas Kelas I Semarang. Murid diajak mengenali berbagai bentuk kekerasan yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari penganiayaan, tawuran, penggunaan senjata tajam, pemalakan atau pemerasan, ancaman, hingga bullying dan kekerasan digital.
Pembahasan juga mengajak murid melihat kembali batas antara bercanda dan tindakan yang sudah melewati batas. Murid diajak mempertanyakan apakah orang lain merasa nyaman, apakah sudah meminta untuk berhenti, apakah terdapat rasa takut atau luka, serta apakah ada unsur pemaksaan. Pesan yang ditekankan adalah bahwa menyebut suatu tindakan sebagai “bercanda” tidak serta-merta menghilangkan konsekuensinya.
Selain dampak terhadap korban, murid juga diberikan pemahaman bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh anak atau remaja tetap dapat membawa konsekuensi. Dampaknya dapat berupa hilangnya kepercayaan teman, terganggunya pendidikan, berhadapan dengan hukum, hingga terganggunya masa depan dan kesehatan mental.
Sementara itu, sesi kedua bersama UPTD PPA Provinsi Jawa Tengah menghadirkan materi bertajuk “Tumbuh Bersama Tanpa Takut: Teman Bukan Lawan” yang dikemas secara interaktif dan menarik. Murid dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk berdiskusi dan menyelesaikan studi kasus yang berkaitan dengan kekerasan dan relasi aman. Setiap kelompok diajak menyampaikan pendapat, mengenali berbagai bentuk kekerasan, membedakan antara candaan, kekerasan, dan bullying, serta mencari cara membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai. Dengan metode tersebut, murid tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga terlibat langsung dalam diskusi dan proses pembelajaran.
Melalui diskusi kelompok tersebut, murid diajak memahami pentingnya saling menghargai, berkomunikasi secara terbuka, menghormati batasan pribadi, serta memberikan dukungan positif dalam pertemanan. Relasi yang sehat diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk mencegah munculnya kekerasan di lingkungan sekolah.
Seminar Anti Kekerasan BERSINAR diharapkan tidak berhenti pada pemahaman tentang aturan dan konsekuensi hukum. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang bagi murid untuk belajar berani berbicara, membangun empati, menghargai sesama, menolak kekerasan dan intimidasi, serta menjadi remaja yang sadar hukum.
Sebab, sekolah yang aman bukan hanya dibangun oleh aturan, tetapi juga oleh keberanian setiap murid untuk saling menjaga.
BERSINAR — Bicara, Empati, Respek, Stop Kekerasan, Intimidasi, Nirkekerasan, Aman, Remaja Sadar Hukum.

