Ada banyak hal yang terjadi di balik keseharian murid di sekolah. Bukan hanya soal pelajaran dan prestasi, tetapi juga tentang bagaimana mereka merasa aman, nyaman, diterima, dan memiliki ruang untuk bercerita. Hal inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam EduMind Wellbeing & AI Camp yang berlangsung selama tiga hari, 26–28 Agustus 2026.
Kegiatan pada 26 dan 27 Agustus 2026 berlangsung di Oak Tree Emerald Semarang, kemudian dilanjutkan pada 28 Agustus 2026 di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Tengah. Program ini merupakan kolaborasi EduMind bersama Yayasan Maleo Talenta Cendekia dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui Telkom Sustainability yang mengangkat isu emotional wellbeing, pencegahan bullying dan cyberbullying, serta literasi teknologi dan Artificial Intelligence (AI) di lingkungan sekolah.
Peserta kegiatan berasal dari sejumlah satuan pendidikan di Jawa Tengah. Setiap sekolah mengikutsertakan 25 murid kelas XI dan XII serta 6 perwakilan guru dan manajemen sekolah, yang terdiri atas kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, dua guru Bimbingan dan Konseling (BK), satu PIC/Penanggung Jawab Program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN), serta satu guru atau tenaga kependidikan lainnya. Keterlibatan murid bersama unsur sekolah ini menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman dan komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Wali Kota Semarang yang diwakili Dr. Muhammad Ahsan, S.Ag., M.Kom., selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang. Selanjutnya, Bapak Yuli Haryanto, S.E., M.Si., dari Direktorat SMA Kemendikdasmen, menyampaikan bahwa persoalan bullying masih menjadi perhatian serius. Ia mengungkapkan bahwa sekitar satu dari tiga orang mengalami perundungan.
“Satu dari tiga orang mengalami perundungan.”
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa bullying bukan persoalan kecil yang bisa dibiarkan. Karena itu, Kemendikdasmen terus memperkuat berbagai kebijakan dan program untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh warga sekolah.
Pesan tersebut sejalan dengan yang disampaikan Kepala BBPMP Jawa Tengah, Dr. Nugraheni Triastuti, S.E., M.Si. Ia menjelaskan bahwa bullying dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pengalaman trauma masa lalu, tidak tersedianya ruang pengaduan yang aman, hingga adanya stratifikasi sosial dalam lingkungan pergaulan.
Upaya menciptakan budaya sekolah yang aman dan nyaman juga diperkuat melalui regulasi pemerintah, yaitu Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman serta Kepmendikdasmen Nomor 17 Tahun 2026 tentang Pedoman Penyelenggaraan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Setelah sesi pembukaan, suasana kegiatan semakin hidup. Peserta mengikuti berbagai aktivitas yang dikemas secara interaktif, mulai dari Student Wellbeing Talk yang membahas kesadaran emosi, self-esteem, dan cyberbullying, hingga Multiple Intelligence Mapping, refleksi diri, serta career path dan personal growth insight.
Peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat dalam diskusi, aktivitas reflektif, dan berbagai kegiatan yang membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan yang berlangsung dengan suasana seru dan menyenangkan.
Keseruan akan berlanjut pada Kamis, 27 Agustus 2026 melalui sesi AI & Digital Behavior, pengenalan platform EduMind, mood check-in, sistem pelaporan, student dashboard, hingga workshop dan diskusi kelompok untuk menyusun rencana aksi.
Rangkaian kegiatan kemudian akan dilanjutkan pada Jumat, 28 Agustus 2026 di BBPMP Jawa Tengah sebagai bagian dari penguatan pemahaman dan tindak lanjut program.
Melalui EduMind Wellbeing & AI Camp, peserta tidak hanya diajak memahami bullying dan dunia digital, tetapi juga belajar mengenali diri, memahami emosi, membangun hubungan yang sehat, serta berani mencari bantuan ketika menghadapi persoalan.
Sebab, sekolah yang aman dan nyaman bukan sekadar tempat untuk mendapatkan nilai yang baik. Sekolah juga harus menjadi ruang di mana setiap murid merasa dihargai, didengar, dan memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi versi terbaik dirinya.

