Pernah menggunakan AI untuk mencari ide tugas, memahami materi pelajaran, atau mencari jawaban dari pertanyaan yang sulit? Saat ini, Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan murid. Hanya dengan mengetikkan pertanyaan, berbagai informasi dapat muncul dalam hitungan detik.
Namun, apakah semua informasi dari AI bisa langsung dipercaya? Apakah semua pekerjaan belajar bisa begitu saja diserahkan kepada AI?
Hal-hal seperti itulah yang dibahas dalam Sosialisasi Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) bagi Murid SMA/SMK/MA di Wilayah Hukum Polrestabes Semarang yang dilaksanakan di SMA Negeri 7 Semarang.
Kegiatan ini menghadirkan IPTU Ega Arya Hermawan, S.Kom., M.H., Kasubnit 1 Unit 2 Ekonomi Satreskrim Polrestabes Semarang, sebagai narasumber. Dalam kegiatan tersebut, murid diajak mengenal lebih dekat perkembangan AI, termasuk peluang yang bisa dimanfaatkan serta tantangan yang perlu diperhatikan di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Bagi murid, AI bisa menjadi salah satu teman belajar yang membantu. Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk mencari ide, memahami materi dengan penjelasan yang lebih sederhana, berdiskusi mengenai suatu topik, maupun menemukan referensi untuk menambah wawasan.
Namun, kemudahan tersebut bukan berarti semua hal harus diserahkan kepada AI. Murid tetap perlu membaca, berpikir, memeriksa kembali informasi, dan menggunakan kemampuan sendiri. Jangan sampai karena ingin mendapatkan hasil dengan cepat, proses belajar justru ditinggalkan.
Penggunaan AI juga membutuhkan tanggung jawab. Informasi pribadi perlu dijaga, karya orang lain harus tetap dihargai, dan informasi yang diperoleh melalui AI perlu diperiksa kembali sebelum digunakan.
Bagi Adzka Muhammad Fasya, murid kelas X-6, sosialisasi tersebut menjadi pengalaman yang menarik karena materi yang disampaikan terasa dekat dengan kehidupan murid saat ini.
“Topiknya relate banget sama zaman sekarang, bikin kita makin siap ngadepin era digital. Apalagi penyampaiannya santai dan gampang dicerna, jadi makin ngebuka wawasan soal AI,” ujar Adzka.
Sementara itu, Yumna Meliyani Putri, murid kelas X-7, menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi murid, khususnya mereka yang baru memasuki jenjang SMA. Tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai penggunaan AI, murid juga memperoleh motivasi dan pemahaman tentang larangan tawuran antarpelajar beserta risikonya.
“Kegiatannya sangat bermanfaat untuk kami para siswa siswi yang baru saja menduduki bangku SMA, karena kami diberi pemahaman dan motivasi tentang pelarangan tawuran antar pelajar beserta risikonya dan kami juga diberi pemahaman tentang penggunaan AI secara bijak,” ungkap Yumna.
Kehadiran AI memang membuat banyak hal menjadi lebih mudah. Namun, kemudahan itu tetap perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab. Menjadi generasi digital bukan hanya tentang bisa menggunakan teknologi, tetapi juga tahu kapan dan bagaimana teknologi tersebut digunakan dengan tepat.
AI boleh menjadi teman belajar. AI boleh membantu mencari ide. Namun, tetap murid yang harus berpikir, memilih, dan menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Jadi, setelah mengenal AI, pertanyaannya bukan hanya “Bisa menggunakan AI atau tidak?”, tetapi juga “Sudah sebijak apa kita menggunakannya?”

